Feeds:
Posts
Comments

Akkarena

Tinggal di Makassar dalam waktu yang relatif lama, tentu ingin menjelajahi setiap sudut kota. Termasuk tempat – tempat wisata alami dalam kota, selain Mall yang hanya beberapa itu, juga ada pantai di Makassar.
Mendengar kata pantai, mungkin dalam angan – angan kita langsung menuju sebuat nama, yaitu Pantai Losari, karena pantai inilah yang sering muncul di Televisi, terutama dalam liputan berita salah satu stasiun televisi nasional.

Padahal, ada pantai yang mirip – mirip pantai karnaval di Ancol, walaupun skalanya tentu tidak sebesar itu. dan lekatnya juga tidak terlalu jauh dari pantai losari. Tepatnya 1 menit dari Trans Mall & Trans Studi ke arah GTC, tepat di seberang itulah lokasi Pantai Akkarena, selama ini, sudah dua kali saya masuk ke tempat ini, dan waktunya pun pas di sore hari, karena pantai ini letaknya di sisi barat, sehingga dapat menyaksikan terbenamnya matahari tatkala cuaca cerah, jadi mirim di Anyer atau Tanah Lot ataupun Ulu watu.

Tarif masuk juga relatif tidak mahal, untuk mobil dikenakan html Rp. 5,000 sedangkan penumpangnya, untuk usia 7 tahun keatas cukup Rp.10,000 saja. jadi pas bawa 3 anak kemarin, hanya dikenakan tarif Rp. 25,000.

Disini selain dapat berenang dipantai yang berpasir biasa, pasir gelap itu, juga dapat menikmati water sport seperti banana boat & Jetski. Jika perut laper, tersedia juga banyak makanan ringan seperti jalangkote, es pisang ijo, palu butung, kelapa muda, dan aneka minuman instant.

ohya, jika berminat untuk berenang, jangan lupa untuk menyisihkan dana Rp.10,000 per orang untuk bilas dengan air pdam. tapi kalo hanya berenang sebatas mata kaki, tidak lah perlu dibilas, nanti ketika sampai di rumah / hotel saja(cTr).

Transformasi Teh Kopi Teh

Sepuluh tahun yang lalu, tiada hari tanpa minum teh, baik teh hasil seduhan sendiri, maupun teh dalam kemasan. Pada akhirnya, kesukaan minum teh itu bergeser menjadi hobi menikmati kopi. Mulai kopi racikan sendiri dengan perkiraan insting takaran, kopi sachet dan kopi yang sudah go internasional, di kedai – kedai kopi banyak tempat, termasuk mall & square.

Awal tahun 2012 ini menjadi, tonggak baru bagi saya, sudah 2 minggu ini tidak bisa menikmati pekatnya hitam kopi, tak lain karena sedang bermasalah dengan tenggorokan, ya radang tenggorokan yang sempat membuat badan panas dingin beberapa hari yang lalu, juga harus diimbangi untuk tidak mengkonsumsi makanan berminyak, minuman dingin dan kopi.

2 Teman beda rasa

2 Teman beda rasa

Sebagai pengganti, walaupun dahulu juga pernah mencoba kembali untuk pindah mencintai teh, akan tetapi godaan kenikmatan kopi memberantakkan niat yang secuil itu. Kini setelah 2 minggu tidak mengkonsumsi Kopi, rasanya sudah terbiasa dan tidak tertarik lagi ketika melihat Mesin Pembuat Kopi, Kopi Sachet di tempat pembelanjaan, di menu rumah makan, dan juga di ruang meeting. Lupakan kopi, dan berganti ke Teh. Kebetulan 3 bulan yang lalu, adik dari Blitar datang ke Makassar dan membawakan satu bal Teh Cap 999. Merek Teh yang sudah saya kenal sejak dari kanak – kanak tersebut, menjadi pengobat kerinduan minuman kopi yang bertransformasi ke teh.

Wangi aroma teh 999 masih mirip dengan aroma sewaktu 20 tahun lalu, akan tetapi ketika diseduh, agak sedikit berbeda. Atau barangkali saya sudah terbiasa menikmati Teh Kurma, yang  lebih pekat baik rasa dan warnanya. Ternyata memang selera sesuai dengan darah kelahiran, teh kurma yang diproduksi dari jawa timur lebih cocok rasa dan aromanya untuk saya yang juga kelahiran jawa timur. ternyata teh 999 itu, walaupun 20 tahun lalu saya sudah kenal, diproduksi di Pekalongan, jawa tengah.

Banyak juga varian teh lain, apalagi dari China dan Korea. tapi itu nanti dulu, setelah puas menikmati teh lokal, saat nya nanti tiba untuk mencicipi teh luar(cTr).

Sarabba, Minuman Makassar

Saya tidak terlalu tahu minuman Sarabba ini, apakah benar – benar dari kota Makassar, ataukah berasal dari kota – kota disekitarnya. Yang jelas, mendapatkan minuman ini waktu beli otak – otak di jalan Kijang.
Awalnya tidak sengaja, karena saya pecinta kopi, begitu lihat di etalase ada kemasan yang mirip dengan Kopi siap saji, pesanlah satu pack waktu itu. Benar saja, ketika pengen nyoba minum Kopi sore hari, sambil menikmati kota Makassar yang lagi dirundung hujan saban hari, tidak dinyana ternyata kemasan yang dibeli tadi bukanlah kopi. Pantas saja harganya mahal, 15ribu 5 sachet, mahal untuk ukuran kopi kemasan yang biasanya seribuan per sachet.

Apa boleh buat, tekad sudah bulat, Sarabba sudah ditangan, coba aja sekalian, ambil cangkir, buka Sarabba dan tuang seluruhnya ke Cangkir, tuang air panas perlahan – lahan sampai hampir penuh… aduk dan siap dihidangkan..
Tunggu sebentar biar agak dingin, trus cobain ssruuppp.. hhmmm panas .. panas.. hangat, panas karena memang airnya masih panas, hangat karena setelah diminum masih terasa hangat di tenggorakan, ya memang Sarabba ini komposisinya Jahe dan Gula Palem (Gula Aren kali ya..) ditambah rempah – rempah.
Rasa manisnya pas, tidak semanis minuman kemasan seperti biasanya, rasa jahenya juga tidak terlalu kuat, enak untuk dinikmati dipagi atau sore hari, apalagi tatkala hujan tiba, rasa hangatnya mengusir hawa dingin.

Sarabba Makassar

Sarabba Makassar

Belum pernah nyobain minuman ini, silahkan datang ke Makassar(cTr).

Dejavu Tahun Lalu

Hari ini setahun yang lalu, saya menyambut tahun baru di kota mojang, Bandung, bersama keluarga dan sengaja berangkat lebih awal untuk menghindari kemacetan di hari – hari menjelang tanggal 1 januari.

Berbekal GPS di Blackberry, mencoba menelusuri jalanan, dan sengaja tidak keluar via Pasteur, akan tetapi memilih keluar via Pasir koja, dan bergegas menuju Hotel Endah Parahiyangan. Tarif hotel yang naik 2x lipat di seluruh Bandung menjelang Tahun Baru, memaksa untuk menurunkan kelas penginapan ke hotel berbintang dibawahnya. Setelah checkin dan memeriksa kondisi kamar, dan melihat tamu – tamu lain juga banyak, lega sudah, berarti banyak teman dan suasa tidak begitu seram nantinya.

Lanjut ke daerah Riau, untuk segera absen di beberapa FO, setalah berputar – putar, karena petunjuk di BB tidak terlalu jelas, dan banyak jalanan yang hanya satu arah, akhirnya ketemu juga, Kantor Pos yang disulap menjadi FO, ya betul namanya STAMP. Puas dari sini jalan menyeberangi perempatan, dan mampir lagi ke FO Heritage.

Untuk makan, karena tidak ada referensi, kalau pun ada juga pastinya tidak akan tahu arah jalan, akhirnya ke tempat yang pasti – pastia aja, Dago atas, karena sudah beberapa kali mengadakan acara di bilangan sana, sekalian bertemu dengan kawan lama untuk serah terima GPS ex Terios.

Perut kenyang, barang sudah ditangan, mampir FO di Dago juga sudah, padahal hari masih menjelang maghrib, diputuskan untuk balik ke Hotel, lagi – lagi mengandalkan BB dengan arah ala kadarnya karena menyuguhkan rekomendasi jalan – jalan utama, Asia – Afrika sampai ke Sudirman, dan ternyata Sore itu lebih macet dari tadi pagi.

Tahun baru masih 2 hari lagi, masih banyak waktu untuk menyusuri Kota Bandung esok hari, sekarang saatnya istirahat untuk mengusir penat setelah seharian dibelakang setir dari Jakarta yang sekarang hanya 114 km itu dari Bandung, Paris van Java(cTr).

Pulau Samalona

Siapa sangka, setelah masuk Kota Makassar dengan segala keruwetan lalu lintas dan kebersihan, kita masih bisa menjumpai gugusan kepulauan yang bagus – bagus di lepas pantai Makassar, dengan jarah tempuh antara 1/2 – 2 jam perahu boat kayu.

Salah satu pulau yang pernah saya kunjungi adalah Pulau Samalona, berjarak tempuh dari pelabuhan tradisional, sekitar 30 menit perjalanan. Jangan kaget sewaktu menunggu perahu untuk menyeberang kesana, terlihat juga banyak perahu ukuran kecil dan sedang juga berlabuh dengan kembawa penumpang anak sekolah, karyawan – karyawati suatu instansi, tukang sayur, bahkan kendaraan sepeda motor. Menandakan bahwa mereka berdomisili di salah satu pulau tersebut, dan beraktifitas sehari – hari di Kota Makassar.

Jarak yang 30 menit menuju Samalona menandakan bukanlah jarak yang jauh, ombak dan gelombang laut tidak terlalu galak, jadi tidak perlu kawatir karena perjalanan menjadi nyaman, saya sendiri waktu itu sambil sarapan pagi selama perjalanan.

Sesampai di Pulau Samalona, huh.. terasa indah sekali, pasir yang putih dan relatif bersih, walaupun masih dikelola secara tradisional, laut yang biru dan langit yang cerah, merupakan komposisi yang pas dalam menikmati keindahan pantai di pagi hari. Air nya yang bening sampai – sampai bebatuan dan pasir di dasar laut sudah terlihat ketika perahu hendak berlabuh. Pulai yang tidak besar ini akan habis dikelilingi dalam waktu 15 menit dengan berjalan kaki.
Terdapat gubuk – gubuk bambu yang disewakan dengan tarif yang tercantum di situ tertera Rp. 50,000. Selain itu juga terdapat Cottage sederhana, berupa rumah panggung. Bila menginginkan tempat singgah yang agak lumayan, berada agak di tengah, bagunan mirip Villa dengan ornamen serba coklat, berpondasikan batu – batu besar.

Untuk kebutuhan makanan, sebaiknya membawa bekal sebelum menyeberang, walaupun di sini juga terdapat orang yang berjualan, akan tetapi siapa tahu berbeda selera, mengingat hanya orang itu lah satu – satunya penyedia masakan. Pisang goreng dan bubur manado, teh dan kopi juga tersedia.

Pulau Samalona

Pulau Samalona

Sebagaimana tempat – tempat wisata air lainnya, sebaiknya mengunjungi Pulau ini di waktu musim kemarau, selain menghindari amukan badai di musim penghujan, suasana hujan juga tidak enak untuk menikmati pantai, selain itu warna air juga akan ikut menjadi keruh, dan biasanya sampah – sampah dedaunan dan ranting pohon juga banyak berserakan.

Ke Makassar? jangan lupa sempatkan mengunjungi Pulau ini, walaupun di Jakarta ada Pulau Seribu, tetapi biasanya jarang berkesempatan untuk terlaksana, entah karena kesibukan ataupun akses yang memang agak sulit dan juga berbiaya tinggi(cTr).

Hijrah ke Kota Makassar

Dulu, 12 tahun lalu, saya masih teringat ketika memilih diantara 4 pilihan penempatan, seandainya diterima sebagai karyawan BUMN, adalah Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makassar.

Dan mudah di tebak, pastinya pilihan terakhihr sepi peminat, rata – rata masih mau bermain aman, entah itu memang belum mengenal kota tersebut, sehingga belum tumbuh benih sayang sama sekali. Ataukah hanyanketakutan belaka sebagai anak manja? Saya sendiri pun waktu itu memilih Bandung, walaupun sama sekali belum pernah datang kesana, akan tetapi mendengar ITB sudah dapat dibayangkan sebesar apakah Bandung itu. Akhirnya hanya ada satu teman yang memilih Makassar, dan sampai sekarang, sampai dapat jodoh, menikah dan membina anak – anaknya, masih di Kota Makassar. Saya sendiri akhirnya tidak masuk sebagai karyawan, dan tetap tinggal di Jakarta.

Akhirnya, setelah waktu yang 12 tahun itu, membuka wawasan dan pemikiran saya, untuk memberanikan diri, ketika menerima tawaran untuk mutasi dari Jakarta ke Makassar. Sungguh sebenarnya sangat relatif sudut pandang itu, tetapi butuh waktu lama untuk menyadarinya.

Kota Makassar tentu tidak sebesar Jakarta, bahkan di sini hanya terlihat satu flyover dan tidak ada underpass, jadi sudah dapat dibayangkan susunan jalan raya di sini. Untuk pusat hiburan dan Mall, sudah ada semua, mulai hypermart ada 2 lokasi, carrefour ada 4 lokasi, lottemart ada 2 lokasi dan giant 1 lokasi.
Kebutuhan lain yang harus menjadi perhatian adalah fasilitas kesehatan, sepanjang mata memandang dalam perjalan terdapat banyak RS besar. Dan selama 8 bulan di sini, baru sekali mencoba untuk memasuki salah satu RS bilangan Hertasning.
Untuk anak – anak, tentu butuh sekolah, akhirnya ditemukan lokasi sekolah yang terdapat dalam satu kawasan perumahan. Jadilah akhirnya perumahan ini sebagai pilihan, selain bisa untuk tinggal dengan menyewa, sekolah anak juga dalam satu kawasan yang tidak padat lalu lintasnya.

Seperti tinggal di kota – kota lainnya, setelah dijalani baru terasa enaknya. Tantanganya adalah, Negara Indonesia sangat luas, akankah kita menghabiskan seluruh masa hidup di satu kota yang sama sampai akhir hayat, tidak kah terbesit untuk menabung cerita tentang kota – kota di negeri ini, kelak buat menabur kisah kepada anak dan cucu(cTr).

LED TV

Bagi yang sedang mencari referensi mencari TV baru, mungkin bisa dipertimbangkan untuk memilih TV LED. Pertimbangan utama sih dari sisi Daya yang dibutuhkan dan juga efek panas yang diakibatkan. Walaupun tentu tetep memiliki plus minus satu sama lain.

Sebelumnya saya adalah pemakai LCD TV 32″ dengan power yang dibutuhkan 185 Watt. Walaupun puas selama pemakaian, namun akhirnya berlaih juga ke LED TV, dimana power yang dibutuhkan adalah 55 Watt, sungguh jauh berbeda. Sekali lagi, walaupun mungkin saat ini juga sudah ada LCD TV yang butuh power sama dengan LED TV. Dengan pemakaian 12 jam lebih per hari, akan terasa sekali tagihan PLN setiap bulannya.

Kelebihan lain, yang mungkin juga terdapat di semua model TV, pilihlah TV yang mendukung USB sebagai input, Photo, Music & Movie. Sehingga tidak perlu banyak perangkat ketika kita hendak menikmati suatu hiburan, hanya butuh sound system yang mendukung Karaoke, sudah deh one stop entertainment at home!

ohya, kelemahan LED TV adalah, sudut menonton harus langsung/lurus horizontal dengan layar. Pandangan yang jauh diatas, atau dibawah layar, akan mengakibatkan gambar yang dilihat blur dan tidak jelas, begitu pula bila pandangan terlalu ke kiri/kanan layar, mengakibatkan hal yang sama. Walaupun, sekali lagi, tidak semua acara yang kita tonton berefek demikian, banyak juga acara / program / film yang memberikan gambar tetap tajam di tonton dari sudut manapun.
DIbanding LCD TV yang memberikan keleluasaan dalam sudut pandang penonton, inilah salah satu kekurangan LED TV.

Positifnya adalah, LED TV mengajarkan kita untuk disiplin dalam menonton, ketika kita mensetting LED TV setingga pandangan ketika kita duduk di sofa, kita akan sangat dipaksa untuk tetap dalam posisi duduk, karena bila sambil berbaring, gambar yang disaksikan akan terlihat tidak terlalu jelas, hal ini berguna bagi anak – anak, untuk mengajarkan mereka disiplin dalam menonton TV sambil duduk sempurna.

Bagaimana pun, pilihan ada ditangan Anda, waktu terus bergerak maju, dan sesuatu yang baru selalu ditemukan untuk “kesempurnaan” yang selalu dikejar(cTr).

Balikpapan Kota Kedua Kaltim

Inilah kota yang lebih sering dikunjungi daripada Ibuu Kota Propinsinya. Balikpapan, dengan kode kota penerbangan BPN, hampir dari semua orang yang ditanya pernah ke Balikpapan menjawab belum tentu pernah ke Samarinda, sang ibu kota propinsi Kalimantan Timur.

Penerbangan hanya memerlukan 50 menit dari Ujung Pandang, ketika sampai di Balikpapan, di Bandara yang terletak di tepi pantai dan berada di pinggir kota persis, tidak layaknya kota lain yang bandaranya terletak nan jauh sekali. Menyusuri dari Bandara ke Jalan Sudirman, bila kita memandang di kiri dan kanan, sudah sesak dengan bangunan tinggi, Hotel, Mall, Ruko, Rumah makan, Banking, tempat hiburan dll. Hanya sepanjang bandara sampai – kebun sayur aja jalanan terlihat landai dan datar, begitu masuk menjauhi pantai, jalanan sudah mulai berbukit – bukit kecil, tidak lupa dengan kelokan – kelokan ringan. Dari atas bukit, bisa di perumahan pertamina ataupun perumahan telkom, kita dapat melihat landscape Kota Balikpapan dari atas, terlihat gugusan bangunan menjulang saling menyusul, apalagi di waktu senja, gugusan tersebut sudah terhiaskan lampu – lampu yang menambah semarak kota, memandang lebih jauh akan terlihat pantai dan laut lepas, dengan banyak kapal laut besar berjajar untuk berlabuh maupun meninggalkan pelabuhan.

Makanan: jangan berharap mendapatkan makanan dengan harga murah disini, tetapi dengan mengesampingkan harga, banyak makanan enak disini, sebagai kota expatriat, kota urban, kota minyak, kota pertambangan, pusat bisnis cabang Jakarta, pastinya tidak asing lagi dengan beragam menu dari berbagai kota.
Akan tetapi yang agak jarang kita jumpai ditempat lain adalah Kepiting Kenari, dengan berbagai rasa, Mentega, Asam pedas, asam manis, lada hitam & goreng menjadikan tempat makan ini tidak pernah sepi oleh kendaraan yang parkir, bahkan sampai meluap ke bahu jalan.
Untuk makanan ringan, banyak tersedia Mantaw, Amplang, sementara untuk lainnya hampir mirip – mirip se nasional, seperti bakso, mie ayam, pecel pincuk, sop kambing dll, walaupun dengan cita rasa khas setempat.

Tempat Wisata: Selain Mall, Tempat Kuliner, juga terdapat penangkaran Buaya, asyiknya adalah kita dapat memberi makan buaya dengan membeli ayam di tempat tersebut, dan melemparkannya di kandang buaya, layaknya ikan lele, para buaya pun saling berebut nyam.. nyam.. nyam..

Selamat menikmati kota Balikpapan(cTr).

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.