Setelah minggu lalu ngurus ktp bareng – bareng, bersama keluarga dan tetangga, hari ini ktp usdah bisa diambil. Pertama langsung datang ke kelurahan, karena katanya tidak bisa diwakilkan. Datanglah sebelum berangkat kerja, kira – kira jam 07.50 sudah nyampe dilokasi, dan si ibu yang bertugas ngurusin itu ktp juga pas baru dateng n keluar dari mobil soluna nya yang biru langit.
Setelah beliaunya masuk keruangan, barulah kita menuju ruangan tersebut bersama dengan beberapa orang yang ternyata sudah ada yang datang lebih awal. Setelah giliran tiba, ternyata untuk ktp yang pembuatannya kolektif telah diambil oleh pak RT ato pak RW, silahkan kontak ke mereka.
Karena rumah pak RT deket, ga masalah kalo diambil kapan aja. Akhirnya diputuskan untuk mengambil nanti sore aja, sepulang dari tempat kerja.
Singkat cerita, waktu sore telah tiba, dan bergegas ke rumah pak RT, untuk mengambil KTP tersebut. Saat ituĀ terdengar adzan maghrib sudah mulai selesai. Setelah sedikit mencari dan berbincang, diserahkanlah dua lembar KTP yang telah selesai, dengan penutup bahwa harus nambah Rp15.000 per ktp, sehingga nambahlah Rp.30.000 untuk 2 ktp. Sementara untuk KK belum selesai.
Akhirnya, untuk mengurus 2 lembar ktp dan 1 lembar kk, harus mengeluarkan Rp.180.000. Sebuah harga yang tidak masalah, mungkin, bagi kita yang mampu. Akan tetapi bagi mereka yang tidak kuat menanggung biaya sebesar itu untuk membuat ktp, lebih memilih untuk tidak berpartisipasi, alias tetap mempertahankan ktp lama saja.
Padahal statistik, kemaren katanya ada 5000 orang yang mengurus ktp, tetapi ada yang hanya perpanjang, dengan biaya perpanjang yang tidak lebih dari rp.10.000. Waduh gawat, 10.000 dikali 5.000 = 50juta jek, itu belum yang pembuatan ktp baru karena pindah, yang menelan biaya rp.75.000/ktp. Angkanya pasti akan fenomenal, dan yang pasti, tidak ada bukti kwitansi atas semua itu. Yang ada hanyalah saksi – saksi hidup tidak berdaya karena tidak mempermasalahkan atau karena tidak mengetetahui berapa biaya yang memang seharusnya dikeluarkan, bahkan aku sendiri yang ngakunya sudah tukang sarjana, hanya bisa diam, ampun deh(cTr).