Bagi anda yang sudah lama banget tidak ngerasain naik angkutan umum, apalagi kopaja atau metromini, entah itu karena sekarang sudah jadi eksekutif, jadi naik mobil terus setiap hari, atau beralih ke motor jadi biker yang sering kali dihujat para pengemudi kendaraan roda empat. Apapun alasanya, barangkali patut mencoba untuk naik kendaraan umum sesekali, sekedar untuk refresing atau bernostalgia.
Dikarenakan ada training di bilangan penataran, proklamasi, acara menginap di rumah mertua diperpanjang sampai acara training yang dua hari selesai. Sebagai ganti tarnsportasi yang biasanya menggunakan motor, karena ini bukan rumah sendiri, tentu saja tidak ada motor longgar yang bisa dipakai. Alhasil, mencoba untuk menggunakan transportasi umum, sekalian untuk mengenang masa 6 tahun lalu, terakhir kali naik kopaja, dengan tarif masih 500 perak.
Kopaja yang dipilih adalah 502 jurusan tanah abang – kampung melayu, dengan pemberangkatan dari lampu merah jati baru, begitu nongkrong langsung dapet satu kopaja yang melaju kencang dengan kekhasannya sendiri. Begitu tangan melambai, juga bermanufer dengan kekhasannya dari kecepatan tinggi ke rendah. Masuk, dan terlihat masih ada bangku kosong satu tepat disamping kiri sopir. Lama tidak menikmati ruangan bus, mata menyapu terlebih dahulu seluruh ruangan bus, sebelum berhenti pada kaca yang diatas pak sopir. Melihat sopir kopaja ini jadi inget, betapa begitu kelakuan kopja dijalanan, tapi kalau melihat raut muka sopir ini, rasanya tidak berkesan perangai orang beringas sesuai dengan tingkah laku nya dalam mengemudikan kopaja. Yang terlihat malah wajah penuh perjuangan dalam mencari nafkah.
Lamunan segera bubrah setelah si kernet yang sekaligus kondektur menggemerincingkan koin di depan muka menagih ongkos, sempet lihat tadi orang kasih 5000 perak buwat berdua, berarti seorang adalah 2500 perak. Bener saja ketika dikasih 3 lembar ribuan, dikembalikan sebiji koin 500 perak.
Tidak sampai 30 menit, sudah sampai ke megaria, berhentilah disitu untuk meneruskan perjalanan ke gedung tujuan dengan jalan kaki.
Hal yang sama tidak jauh berbeda ketika pulang, yang berbeda adalah saat pulang, bangku sebelah diisi oleh cewek, dan ini adalah sesuatu yang tidak dapet diperoleh ketika naik mobil / motor, duduk bersebelahan dengan cewek sampai tujuan. Paling kalo naik kendaraan sendiri, cuman melihat sepintas di pinggir jalan(cTr).
[...] Read original post at http://catura.wordpress.com/2008/07/11/nostalgia-naik-kopaja-setelah-6-tahun/ [...]