Coba bandingkan dengan industri manufaktur, atau industri otomotif misalnya, para produsen berlomba – lomba meningktkan produk mereka sebanyak – banyaknya untuk memenuhi kebutuhan konsumen, dengan tujuan akhir untuk mendapatkan laba yang sebesar – besarnya, tentu saja.
Atau yang sekarang lagi heboh, telepon bergerak, hampir semua operator telpon selular melakukan perang tarif, dengan memberikan tarif termurah atau bahkan ada yang gratis. Dilihat dari sisi produksi, operator berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan sebanyak – banyaknya sampai pelanggan meras puas menggunakannya. Tidak berhenti sampai disitu, agar pelanggan banyak memakai produk mereka, harga pun di pangkas habis – habisan.
Berbeda dengan produsen atau lebih tepat pengolah sumber energi. Seperti produsen (penyedia) minyak bumi dan produsen (penyedia) listrik. Hampir tidak ada iklan untuk produk – produk tersebut, yang menyatakan atau mengajak pelanggan untuk menggunakan produk mereka sebanyak – banyaknya.
Dari segi ekonomi, memang produsen (penyedia) tersebut jualan barang dengan nilai keuntungan minus. Harga tidak bisa mereka tentukan sendiri, dan tentunya harga yang mereka dapatkan malah harga minus untuk sebuah produsen yang berorientasi keuntungan. Yang ada malah himbauan, baik itu dari penentu harga dan produsen, untuk berhemat dalam menggunakan produk mereka. Semakin sedikit produk mereka yang terserap ke pasar, semakin sedikit pula kerugian yang mereka tanggung(cTr).