Pagi – pagi sewaktu buka pintu gerbang, ngelihat dua kucing, satu besar dan satu kecil. Dilihat dari gerak – geriknya, dua kucing itu mempunyai pertalian darah, yang satu ibunya dan yang satu anaknya.
Tidak seperti kebanyakan kucing, yang selalu takut pada manusia yang belum dikenal. Dua kucing ini tidak takut pada manusia, mungkin memang bukan kucing liar, akan tetapi mungkin peliharaan tetangga. Bahkan ketika dipanggil dengan sapaan akrabnya “pussss….” mereka langsung menghampiri, seolah – olah menagih sesuatu kepada orang yang memanggilnya.
Merasa ditagih, ayam di kulkas yang sudah dua hari tidak sempat dimasak, segera dilempar ke rerumputan dekat pintu gerbang, dan segeralah dua ekor kucing tersebut berlarian menghampiri, namun tidak berebut. Malah terkesan si induk kucing membiarkan atau memberi kesempatan kepada anaknya terlebih dahulu untuk menikmati daging mentah dingin itu. Betapa hewan pun memiliki naluri dasar kasih sayang terhadap anaknya. Begitu si anak sudah puas terhadap santapannya, barulah giliran si induk menikmati tulang berlapis sedikit daging ayam sisa dari si anak yang tidak habis.

Begitukah kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali(cTr).
[...] Read original post at http://catura.wordpress.com/2008/07/29/kitkat-induk-dan-anak-kucing/ [...]