Dulu, 12 tahun lalu, saya masih teringat ketika memilih diantara 4 pilihan penempatan, seandainya diterima sebagai karyawan BUMN, adalah Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makassar.
Dan mudah di tebak, pastinya pilihan terakhihr sepi peminat, rata – rata masih mau bermain aman, entah itu memang belum mengenal kota tersebut, sehingga belum tumbuh benih sayang sama sekali. Ataukah hanyanketakutan belaka sebagai anak manja? Saya sendiri pun waktu itu memilih Bandung, walaupun sama sekali belum pernah datang kesana, akan tetapi mendengar ITB sudah dapat dibayangkan sebesar apakah Bandung itu. Akhirnya hanya ada satu teman yang memilih Makassar, dan sampai sekarang, sampai dapat jodoh, menikah dan membina anak – anaknya, masih di Kota Makassar. Saya sendiri akhirnya tidak masuk sebagai karyawan, dan tetap tinggal di Jakarta.
Akhirnya, setelah waktu yang 12 tahun itu, membuka wawasan dan pemikiran saya, untuk memberanikan diri, ketika menerima tawaran untuk mutasi dari Jakarta ke Makassar. Sungguh sebenarnya sangat relatif sudut pandang itu, tetapi butuh waktu lama untuk menyadarinya.
Kota Makassar tentu tidak sebesar Jakarta, bahkan di sini hanya terlihat satu flyover dan tidak ada underpass, jadi sudah dapat dibayangkan susunan jalan raya di sini. Untuk pusat hiburan dan Mall, sudah ada semua, mulai hypermart ada 2 lokasi, carrefour ada 4 lokasi, lottemart ada 2 lokasi dan giant 1 lokasi.
Kebutuhan lain yang harus menjadi perhatian adalah fasilitas kesehatan, sepanjang mata memandang dalam perjalan terdapat banyak RS besar. Dan selama 8 bulan di sini, baru sekali mencoba untuk memasuki salah satu RS bilangan Hertasning.
Untuk anak – anak, tentu butuh sekolah, akhirnya ditemukan lokasi sekolah yang terdapat dalam satu kawasan perumahan. Jadilah akhirnya perumahan ini sebagai pilihan, selain bisa untuk tinggal dengan menyewa, sekolah anak juga dalam satu kawasan yang tidak padat lalu lintasnya.
Seperti tinggal di kota – kota lainnya, setelah dijalani baru terasa enaknya. Tantanganya adalah, Negara Indonesia sangat luas, akankah kita menghabiskan seluruh masa hidup di satu kota yang sama sampai akhir hayat, tidak kah terbesit untuk menabung cerita tentang kota – kota di negeri ini, kelak buat menabur kisah kepada anak dan cucu(cTr).