Siapa sangka, setelah masuk Kota Makassar dengan segala keruwetan lalu lintas dan kebersihan, kita masih bisa menjumpai gugusan kepulauan yang bagus – bagus di lepas pantai Makassar, dengan jarah tempuh antara 1/2 – 2 jam perahu boat kayu.
Salah satu pulau yang pernah saya kunjungi adalah Pulau Samalona, berjarak tempuh dari pelabuhan tradisional, sekitar 30 menit perjalanan. Jangan kaget sewaktu menunggu perahu untuk menyeberang kesana, terlihat juga banyak perahu ukuran kecil dan sedang juga berlabuh dengan kembawa penumpang anak sekolah, karyawan – karyawati suatu instansi, tukang sayur, bahkan kendaraan sepeda motor. Menandakan bahwa mereka berdomisili di salah satu pulau tersebut, dan beraktifitas sehari – hari di Kota Makassar.
Jarak yang 30 menit menuju Samalona menandakan bukanlah jarak yang jauh, ombak dan gelombang laut tidak terlalu galak, jadi tidak perlu kawatir karena perjalanan menjadi nyaman, saya sendiri waktu itu sambil sarapan pagi selama perjalanan.
Sesampai di Pulau Samalona, huh.. terasa indah sekali, pasir yang putih dan relatif bersih, walaupun masih dikelola secara tradisional, laut yang biru dan langit yang cerah, merupakan komposisi yang pas dalam menikmati keindahan pantai di pagi hari. Air nya yang bening sampai – sampai bebatuan dan pasir di dasar laut sudah terlihat ketika perahu hendak berlabuh. Pulai yang tidak besar ini akan habis dikelilingi dalam waktu 15 menit dengan berjalan kaki.
Terdapat gubuk – gubuk bambu yang disewakan dengan tarif yang tercantum di situ tertera Rp. 50,000. Selain itu juga terdapat Cottage sederhana, berupa rumah panggung. Bila menginginkan tempat singgah yang agak lumayan, berada agak di tengah, bagunan mirip Villa dengan ornamen serba coklat, berpondasikan batu – batu besar.
Untuk kebutuhan makanan, sebaiknya membawa bekal sebelum menyeberang, walaupun di sini juga terdapat orang yang berjualan, akan tetapi siapa tahu berbeda selera, mengingat hanya orang itu lah satu – satunya penyedia masakan. Pisang goreng dan bubur manado, teh dan kopi juga tersedia.

Pulau Samalona
Sebagaimana tempat – tempat wisata air lainnya, sebaiknya mengunjungi Pulau ini di waktu musim kemarau, selain menghindari amukan badai di musim penghujan, suasana hujan juga tidak enak untuk menikmati pantai, selain itu warna air juga akan ikut menjadi keruh, dan biasanya sampah – sampah dedaunan dan ranting pohon juga banyak berserakan.
Ke Makassar? jangan lupa sempatkan mengunjungi Pulau ini, walaupun di Jakarta ada Pulau Seribu, tetapi biasanya jarang berkesempatan untuk terlaksana, entah karena kesibukan ataupun akses yang memang agak sulit dan juga berbiaya tinggi(cTr).