Sepuluh tahun yang lalu, tiada hari tanpa minum teh, baik teh hasil seduhan sendiri, maupun teh dalam kemasan. Pada akhirnya, kesukaan minum teh itu bergeser menjadi hobi menikmati kopi. Mulai kopi racikan sendiri dengan perkiraan insting takaran, kopi sachet dan kopi yang sudah go internasional, di kedai – kedai kopi banyak tempat, termasuk mall & square.
Awal tahun 2012 ini menjadi, tonggak baru bagi saya, sudah 2 minggu ini tidak bisa menikmati pekatnya hitam kopi, tak lain karena sedang bermasalah dengan tenggorokan, ya radang tenggorokan yang sempat membuat badan panas dingin beberapa hari yang lalu, juga harus diimbangi untuk tidak mengkonsumsi makanan berminyak, minuman dingin dan kopi.
Sebagai pengganti, walaupun dahulu juga pernah mencoba kembali untuk pindah mencintai teh, akan tetapi godaan kenikmatan kopi memberantakkan niat yang secuil itu. Kini setelah 2 minggu tidak mengkonsumsi Kopi, rasanya sudah terbiasa dan tidak tertarik lagi ketika melihat Mesin Pembuat Kopi, Kopi Sachet di tempat pembelanjaan, di menu rumah makan, dan juga di ruang meeting. Lupakan kopi, dan berganti ke Teh. Kebetulan 3 bulan yang lalu, adik dari Blitar datang ke Makassar dan membawakan satu bal Teh Cap 999. Merek Teh yang sudah saya kenal sejak dari kanak – kanak tersebut, menjadi pengobat kerinduan minuman kopi yang bertransformasi ke teh.
Wangi aroma teh 999 masih mirip dengan aroma sewaktu 20 tahun lalu, akan tetapi ketika diseduh, agak sedikit berbeda. Atau barangkali saya sudah terbiasa menikmati Teh Kurma, yang lebih pekat baik rasa dan warnanya. Ternyata memang selera sesuai dengan darah kelahiran, teh kurma yang diproduksi dari jawa timur lebih cocok rasa dan aromanya untuk saya yang juga kelahiran jawa timur. ternyata teh 999 itu, walaupun 20 tahun lalu saya sudah kenal, diproduksi di Pekalongan, jawa tengah.
Banyak juga varian teh lain, apalagi dari China dan Korea. tapi itu nanti dulu, setelah puas menikmati teh lokal, saat nya nanti tiba untuk mencicipi teh luar(cTr).
